@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Dari Sisi yang Paling Rapuh — Sebuah Cerita Pendek

Hujan turun pelan sore itu. Butirannya jatuh seperti ingatan yang tak pernah benar-benar pergi; hanya menunggu waktu untuk kembali.


​Alya duduk di sudut kafe kecil, menatap secangkir kopi yang tak lagi hangat. Di hadapannya, selembar kertas telah dipenuhi tulisan tangan yang rapi, namun bergetar.


​Raka,

​Sudah lama aku tidak menangis. Tapi setiap kali hujan turun, aku selalu merasa kamu sedang memanggilku pulang.


​Tangannya berhenti. Ia menatap ke luar jendela. Kota kecil ini tenang, terlalu tenang hingga kesunyian terasa seperti teman yang tak diundang.


​Ia pindah ke kota ini untuk memulai kembali. Setidaknya, itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. 


Namun nyatanya, ia hanya berpindah tempat untuk terus mengenang.


​Dulu, hujan adalah hal yang menyenangkan. Di kota tempat ia berkuliah, hujan selalu datang bersama tawa. Bersama langkah kaki yang berlari kecil dan suara Raka yang selalu terdengar hangat.


​"Kamu ini ya, hujan malah disambut," kata Raka suatu kali.


​Alya tertawa. "Kalau sama kamu, hujan juga rasanya hangat."


​Raka adalah tempat pulang yang tidak pernah ia sadari nilainya. Ia selalu ada dengan kesabaran yang tak pernah habis. 


Namun, justru karena itu, Alya mulai takut.

​Takut bergantung.

Takut kehilangan.


​Ketakutan itu tumbuh diam-diam, menjelma jarak yang tak kasat mata. Alya mulai menahan diri, mulai menjauh seolah dengan begitu ia bisa menghindari luka di masa depan.


​"Alya, kamu kenapa?" tanya Raka suatu malam.

 "Aku di sini, tapi kamu seperti pergi ke tempat yang tidak bisa aku jangkau."


Alya tak menjawab.


Ia pikir, menjaga jarak akan melindunginya.


Namun hidup punya cara sendiri untuk membuktikan bahwa tidak semua kehilangan bisa dihindari.


Raka pergi. 


Bukan karena mereka berhenti saling mencintai melainkan karena waktu mengambilnya lebih dulu. Dan sejak saat itu, semua ketakutan Alya menjadi nyata.


Hujan di luar mulai mereda. Alya menunduk, menatap surat yang belum selesai. Selama ini, Ia hidup di masa lalu di sisi dirinya yang paling rapuh. Ia terus memeluk kenangan, seolah dengan begitu Raka tidak benar-benar pergi.


Namun hari ini, Ia merasa lelah.


Lelah menyalahkan diri sendiri. Lelah terjebak dalam “seandainya”.


Perlahan, Ia menulis kembali. Kali ini Aku tidak menulis untukmu, Raka. Aku menulis untuk diriku sendiri.


Mungkin aku tidak bisa menyentuhmu lagi,


tapi aku bisa belajar mencintai hidup yang dulu kamu perjuangkan bersamaku.


Ia menarik napas panjang.


Dan mungkin… aku harus mulai memaafkan diriku sendiri.


“Apa hujan selalu bikin kamu menulis seperti itu?”


Alya menoleh. Seorang pria berdiri di samping mejanya, membawa secangkir teh.


“Kursi lain penuh,” katanya. 


Alya mengangguk. 


Mereka duduk dalam diam beberapa saat. Anehnya, kehadiran pria itu tidak terasa asing.


“Kadang,” ujar Alya pelan, “hujan bikin sesuatu yang lama terkunci jadi ingin keluar.”


Pria itu tersenyum tipis.


“Berarti bukan hujannya yang bikin sedih. Mungkin cuma membantu kamu jujur.”


Alya terdiam.


“Kalau sesuatu itu pernah berarti,” lanjutnya, “dia nggak harus hilang. Kadang cuma berubah bentuk.”


Kalimat itu sederhana, tapi terasa dalam. Bukan menghapus luka


melainkan mengubah cara memandangnya.


Senja mulai turun saat Alya berdiri di tepi sungai kecil. Surat itu kini berada di tangannya. Ia membacanya sekali lagi. Kali ini tanpa air mata.


“Terima kasih,” bisiknya.


Ia melipat kertas itu, lalu membiarkannya hanyut bersama aliran air.


Perlahan, surat itu menjauh. Seperti kenangan yang akhirnya Ia izinkan pergi. Alya mengangkat wajahnya. Langit mulai cerah, menyisakan cahaya lembut di antara awan.


Ia tersenyum. Bukan karena lukanya telah sembuh sepenuhnya 


melainkan karena ia akhirnya berani berdamai. 


Dengan kehilangan.


Dengan kenangan.


Dan dengan sisi yang paling rapuh dalam dirinya.


Dan mungkin, di sanalah cinta tetap hidup dalam bentuk yang berbeda.



Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!