@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Lagu "33x" Perunggu Adalah Titik Rehat


Coba bayangkan ini. Kamu sedang berada di fase paling melelahkan dalam harimu, membuka Spotify, melihat jajaran lagu Most Listened, dan matamu tiba-tiba terhenti pada satu judul lagu yang terasa agak "janggal".

​Judul lagu itu sangat minimalis, hanya berisi dua angka dan satu huruf: “33x”. Di era saat musisi berlomba-lomba membuat judul lagu paling estetik untuk memancing klik pendengar, judul ini rasanya seperti sebuah anomali. Ia bukan sebuah diksi puitis yang mendayu-dayu, bukan juga diksi serapan bahasa asing dengan makna filosofis yang berat. Judul itu tidak menjelaskan isi lagunya sama sekali, bahkan tidak menjadi bait yang dinyanyikan dalam lirik. Judul itu begitu aneh dan asing.

​Saking asingnya, sebagian dari kita mungkin tanpa sadar mencoba menebak-nebak apa sebenarnya maksud judul itu, bahkan sebelum kita benar-benar memutarnya. Lalu, dorongan penasaran itu menang. Kamu menekan tombol play.

​Saat kamu mulai mendengarnya, reaksi yang muncul biasanya terbelah: beberapa mungkin ada yang langsung merasa cocok dengan nadanya, namun beberapa yang lain mungkin tidak. Tapi, pada akhirnya memang begitulah sifat alami musik; ini hanyalah masalah selera.

​Kita tahu persis bagaimana selera pasar bekerja. Ada orang yang seleranya terjebak pada lagu-lagu romantis tentang mengagumi seseorang dari jauh. Ada orang-orang mabuk asmara yang menjadikan lagu percintaan manis sebagai soundtrack yang seolah tercipta khusus untuk mereka berdua. Di sudut lain, ada juga yang sedang mencari validasi dari rasa sakitnya, merasa sangat relate dengan lagu-lagu sedih setelah hubungannya hancur berantakan.

​Namun, lagu "33x" dari Perunggu ini rasanya berdiri di dimensi yang berbeda. Konstruksinya seolah melawan arus algoritme zaman sekarang. Temponya sangat lamban, pemilihan diksi yang dipakai terasa familiar di telinga keseharian namun terdengar asing saat dirangkai menjadi bait sebuah lagu, dan durasinya jauh lebih panjang dibandingkan standar lagu populer masa kini.

​Karena karakteristiknya yang tidak biasa ini, sangat masuk akal jika orang-orang mungkin tidak akan langsung jatuh cinta dengan lagu ini saat memutarnya untuk pertama kali. Alasannya sangat rasional: temponya yang terlampau lamban, lirik yang terasa asing untuk dinyanyikan, serta durasi yang kelewat lama. Di dunia yang serba terburu-buru ini, durasi di atas lima menit tanpa hook yang catchy rasanya seperti sebuah ujian kesabaran.

​Generasi kita adalah generasi yang kecanduan pada kecepatan. Kita terbiasa terus berlari. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang cenderung lebih suka mendengarkan lagu-lagu dengan distorsi kencang seperti Hindia atau .Feast yang memiliki tempo cepat.

​Kita memutar lagu-lagu bertempo cepat itu bukan sekadar untuk menikmati musik, melainkan sebagai sebuah mekanisme koping (coping mechanism). Kita menggunakannya untuk mencoba menenangkan pikiran yang kalut dari tumpukan beban pekerjaan, atau menggunakannya sebagai penyuntik adrenalin saat berusaha meyakinkan diri sendiri untuk berani meminta cuti kepada atasan. Kita butuh musik yang marah, musik yang cepat, musik yang mewakili detak jantung kita yang sedang burnout.

​Namun, sekeras apa pun kita berlari, mesin tubuh kita punya batasnya. Setelah mendengarkan lagu-lagu bertempo cepat itu—yang mungkin sudah terulang berkali-kali hingga telinga terasa kebas—pada satu titik kita akan kehabisan napas, dan akhirnya memilih untuk kembali lagi ke sini. Kembali ke "33x".

​Dan di momen pelarian itulah, keajaibannya bekerja. Lagu ini tiba-tiba akan berubah rasanya. Lirik yang tadinya terasa asing kini terdengar seperti doa yang diucapkan diam-diam. Dan tempo lamban yang tadinya kita anggap sangat membosankan, entah bagaimana akan berubah menjadi tempo penenang—persis seperti pelukan hangat seorang ibu yang sedang meninabobokan anaknya yang kelelahan.

​Kita akhirnya sadar bahwa hidup tidak melulu soal berlari mengejar ketertinggalan dengan soundtrack musik bertempo cepat. Ada kalanya kita harus berani menekan rem, mengambil napas panjang, dan menepi sejenak dari ekspektasi dunia yang brutal.

​Terkadang, hal paling revolusioner yang bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri adalah berhenti. Dan bagi telinga-telinga yang sudah terlalu lelah mendengar bisingnya tuntutan hidup, titik rehat itu ternyata bernama "33x".




Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!