Jika kamu mengikuti diskografi musik .Feast sejak awal, kamu pasti tahu rekam jejak mereka. Mereka adalah band yang identik dengan distorsi gitar yang bising, tempo yang memburu, dan lirik-lirik tajam yang sarat akan kritik sosial politik. Musik mereka dirancang untuk membuatmu mengepalkan tangan ke udara dan marah pada sistem.
Tapi kemudian, Nina lahir.
Sebuah track anomali yang
seketika meruntuhkan semua stigma bising itu. Tidak ada distorsi kencang. Tidak
ada teriakan marah. Yang tersisa hanyalah instrumen yang syahdu dan vokal
lembut yang bernyanyi layaknya sebuah lagu pengantar tidur.
Alih-alih mengajak pendengarnya turun ke jalan, Nina
justru memaksa pendengarnya untuk menunduk, memeluk lutut, dan menangis
sendirian di dalam kamar. Pertanyaannya, apa yang membuat melodi dan lirik ini
begitu mematikan bagi pertahanan emosi kita? Kenapa semua orang, terlepas dari
siapa pun mereka, bisa hancur saat mendengarnya?
Secara tekstual, makna utama lagu ini sebenarnya
sangat lugas. Ini adalah sebuah surat terbuka—sebuah pengakuan dosa sekaligus
doa—dari seorang ayah (atau ibu) kepada anaknya.
Kita sering kali terjebak dalam ilusi bahwa orang tua
adalah sosok superhero tanpa cacat. Padahal, mereka hanyalah manusia
biasa yang juga babak belur dihajar oleh kejamnya realitas. Melalui Nina,
seorang orang tua menanggalkan ego dan kesombongannya. Mereka menatap darah
dagingnya yang sedang tertidur lelap dan menyadari satu hal yang paling
menakutkan: Dunia ini terlalu keras, dan aku telah melakukan terlalu banyak
kesalahan.
Doa terbesar mereka bukan agar sang anak menjadi kaya
raya atau menjadi penguasa. Harapan mereka jauh lebih sederhana namun luar
biasa berat: "Tumbuhlah lebih baik dariku. Jangan ulangi
kesalahan-kesalahanku. Jangan rasakan perih yang dulu kurasakan."
Ini adalah sebentuk penyerahan diri yang paling jujur dari manusia yang sudah
lelah.
Tapi, mari kita tarik logika emosional ini lebih
jauh. Kekuatan magis dari Nina terletak pada sifatnya yang sangat
universal. Kamu tidak perlu memiliki akta kelahiran anak untuk bisa menangis
mendengarnya.
Bayangkan lagu ini meresap ke telinga seorang kakak
sulung atau anak tengah. Seseorang yang dipaksa menjadi dewasa sebelum
waktunya. Seseorang yang harus mengubur mimpinya dalam-dalam, menelan
gengsinya, dan bekerja mati-matian hanya untuk menjadi tameng bagi keluarganya.
Ketika sang kakak menatap adiknya, dinamika lirik ini
bergeser dengan sangat pas. Sang kakak memproyeksikan Ekspektasi dan rasa
sayangnya melalui lagu ini. "Jadilah manusia yang
merdeka, Dik. Berlarilah ke tempat yang tak bisa ku capai. Jangan mewarisi
beban dan lelahku." Bagi seorang kakak, melihat adiknya
berhasil tumbuh lebih baik dari dirinya adalah sebuah piala kemenangan yang
paling sunyi.
Lalu, kita sampai pada titik pathos
(emosi) yang paling menyayat hati. Bagaimana jika yang memasang earphone
di tengah malam itu justru adalah sang anak itu sendiri? Khususnya, seorang
anak bungsu yang sedang merasa hilang arah?
Di budaya kita, figur seorang ayah sering kali
direpresentasikan sebagai sosok yang kaku, penuh gengsi, dan sangat miskin
validasi emosional. Banyak ayah yang rela punggungnya hancur demi menghidupi
keluarga, tapi mulutnya terkunci rapat untuk sekadar mengucapkan satu kalimat
sederhana: "Ayah sayang dan bangga padamu."
Bagi anak-anak yang haus akan validasi ini, lagu Nina
menjelma menjadi sebuah mesin waktu dan medium Escapism yang luar
biasa emosional.
Ketika mereka mendengarkan lagu ini, mereka tidak
sedang mendengarkan Baskara bernyanyi. Secara psikologis, mereka sedang
mendengarkan pesan tak tersirat dari ayah mereka sendiri. Sebuah kalimat
penenang dari sosok pria kaku di rumah, atau bahkan... dari seorang ayah yang
mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini. Lagu ini menggantikan presensi fisik
dan kata-kata yang tak pernah sempat terucap semasa hidupnya.
Sang anak menangis karena lagu ini mengisi ruang
hampa di dada mereka. Sebuah pengingat bahwa di balik diamnya sang ayah, ada
harapan besar yang selalu menyertai langkah mereka.
Kita semua bisa menangis mendengarnya karena di dalam
setiap liriknya, kita menemukan cerminan diri kita sendiri. Entah sebagai orang
tua yang cemas akan masa depan, sebagai kakak yang kelelahan menahan beban,
atau sebagai anak yang merindukan suara hangat ayahnya.
Nina
menelanjangi kita, memaksa kita menerima kenyataan bahwa pada dasar hati yang
paling dalam, kita hanya ingin orang-orang yang kita cintai baik-baik saja.
.png)