@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Hilang yang Satu

Seminggu setelah kematianmu,
Ia telah berhenti menangis.
Namun, duduknya dalam persembahayangan kepada Tuhan semakin panjang.
Sembab di matanya mungkin telah menghilang,
Namun berganti dengan teduh tatap yang sangat dalam.

Sebulan setelah kematianmu,
tidak lagi kutemukan tanah basah di sendalnya.
Namun, langkah jalan kian memelan; berat dan penuh hambatan.
Lengkung bibir mulai merekah,
namun hilang manis, lepas serta maknanya.

Satu kali kudengar ia menderu;
Desir lantunan penghargaan lancar menjuru ke sisi-Mu.
Pada gelap menjelang subuh, ia menjerit sejadi dalam mulut yang terkunci.
Dipersekusi ingin bertemu, meluluhkan niat bertahan satu.

Hari, minggu, bulan, tahun berlalu.
Fajar, tengah, petang, dan malam bertamu.
Mengetuk—merengkuh tempat-tempat sunyi persemayaman.
Berharap sembuh—utuh; memohon keselamatan hidup di dunia yang runtuh.


Sebuah puisi - Endiarto, Fajar

Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!