Pernahkah kamu merasa
bingung harus cerita kepada siapa saat kamu menemukan hal yang sangat menarik?
Kalau iya, kamu senasib sama Takamura Misono di seri Bila Terdengar Bagus Bagimu
atau Omimi ni Aimashitara (2021).
Sebelumnya, saya ingin
menyatakan, saya akan lawan! bahwa, saya tidak punya kapasitas untuk
membuat ulasan profesional yang objektif. Jadi, tulisan ini hanya berisi
pengalaman yang saya rasakan selama mengikuti serinya.
Premisnya sederhana. Kisahkan
Takamura Misono pekerja kantoran dengan masalah public speaking yang
memutuskan untuk memulai sebuah podcast. Selain karena kegemarannya pada
podcast, keputusan itu dibuat karena dia merasa tidak ada orang yang
cukup antusias mendengar Takamura menceritakan hal-hal kesukaannya.
Meski formula yang
digunakan di 12 episodenya sama, tiap episode di seri ini tidak pernah terasa
membosankan. Di episode-episode awal, saya diperlihatkan bagaimana seorang
Takamura Misono dengan masalah bicaranya dan perasaan sedihnya saat diabaikan, hingga
akhirnya bertumbuh setelah melewati berbagai macam dinamika. Perubahan Takamura
dari sosok yang socially awkward menjadi seorang social butterfly—meski
tidak betul-betul social butterfly—tejadi secara perlahan melalui
kejadian-kejadian kecil sepanjang cerita membuat saya lebih mudah merasa empati
pada karakternya.
Konfliknya bisa
dibilang sederhana dan mungkin akan terasa dekat dengan beberapa orang, seperti
marahan karena miskomunikasi; kerja bareng rekan yang rese; sampai tetangga
berisik yang ganggu proses rekaman. Namun, konflik yang saya bilang sederhana
itu justru menjadi kelebihan karena lebih mudah dipahami dan saya bisa fokus pada
jalannya cerita. Ditambah, semua konflik memiliki konklusi yang sangat pas membuat
saya semakin menikmati menonton seri ini.
Meski menghadirkan cukup
banyak karakter, saya rasa, karakter-karakter pendukung yang dihadirkan di sini
tidak ada yang sia-sia. Karena punya persona dan latar belakang yang kuat,
semua karakter punya peran terhadap jalannya cerita dan membuat ceritanya
menjadi lebih berwarna. Dinamika hubungan antar karakter di sini pun terasa
sangat masuk akal. Membuat saya bisa menerima keputusan-keputusan yang diambil oleh
tiap karakter di sepanjang cerita.
Set atau latar yang digunakan
di seri ini terlihat dibuat dengan serius. Terlihat dari set kantor dengan
tumpukan dokumen serta ATK yang realistis hingga —yang menurut saya paling
menarik— set restoran untuk rekaman podcast lengkap dengan shot-shot makanan
yang sukses membuat saya membayangkan rasa makanannya.
Akting para aktor di
beberapa adegan terasa agak cringe untuk saya. Namun, beberapa adegan
terasa sangat natural apalagi saat Takamura menikmati makanan yang sedang di-review.
Salah satu hal menarik
dari seri ini adalah sesi rekaman podcast-nya. Di dalam podcast, Takamura me-review
kuliner-kuliner dari restoran jejaring (chain restaurant) favoritnya.
Entah secara sadar atau tidak, Takamura Misono juga menceritakan
kenangan-kenangan yang ada di makanan yang sedang dia review. Secara
tidak langsung, sesi rekaman podcast ini menjadi tempat curhat sekaligus
momentum untuk introspeksi bagi Takamura.
Ada satu kalimat di seri
ini yang sangat kena ke saya. Kurang lebih bunyinya begini: "Jika kamu
tidak membagikan perasaan ketika kamu melihat pemandangan indah atau memakan
makanan enak, otakmu akan mati rasa dan rasa cinta kamu akan hal itu akan cepat
hilang." Yang saya intrepetasikan secara sederhana menjadi "Kamu akan
cepat kehilangan minat pada hal yang kamu sukai jika tidak membagikannya ke
orang lain." Kalimat itu terus berputar di kepala dan menjadi salah satu pemicu
saya menulis ini.
Secara keseluruhan, seri ini adalah seri sederhana yang sangat menghibur dan sangat cocok ditonton untuk menemani makan malam setelah hari yang melelahkan. Bisa ditonton secara gratis di channel youtube tv tokyo world wide.