@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Bila Terdengar Bagus Bagimu: Sebuah Ulasan


Gambar: tv-tokyo.co.jp

Pernahkah kamu merasa bingung harus cerita kepada siapa saat kamu menemukan hal yang sangat menarik? Kalau iya, kamu senasib sama Takamura Misono di seri Bila Terdengar Bagus Bagimu atau Omimi ni Aimashitara (2021).

Sebelumnya, saya ingin menyatakan, saya akan lawan! bahwa, saya tidak punya kapasitas untuk membuat ulasan profesional yang objektif. Jadi, tulisan ini hanya berisi pengalaman yang saya rasakan selama mengikuti serinya.

Premisnya sederhana. Kisahkan Takamura Misono pekerja kantoran dengan masalah public speaking yang memutuskan untuk memulai sebuah podcast. Selain karena kegemarannya pada podcast, keputusan itu dibuat karena dia merasa tidak ada orang yang cukup antusias mendengar Takamura menceritakan hal-hal kesukaannya.

Meski formula yang digunakan di 12 episodenya sama, tiap episode di seri ini tidak pernah terasa membosankan. Di episode-episode awal, saya diperlihatkan bagaimana seorang Takamura Misono dengan masalah bicaranya dan perasaan sedihnya saat diabaikan, hingga akhirnya bertumbuh setelah melewati berbagai macam dinamika. Perubahan Takamura dari sosok yang socially awkward menjadi seorang social butterfly—meski tidak betul-betul social butterfly—tejadi secara perlahan melalui kejadian-kejadian kecil sepanjang cerita membuat saya lebih mudah merasa empati pada karakternya.

Konfliknya bisa dibilang sederhana dan mungkin akan terasa dekat dengan beberapa orang, seperti marahan karena miskomunikasi; kerja bareng rekan yang rese; sampai tetangga berisik yang ganggu proses rekaman. Namun, konflik yang saya bilang sederhana itu justru menjadi kelebihan karena lebih mudah dipahami dan saya bisa fokus pada jalannya cerita. Ditambah, semua konflik memiliki konklusi yang sangat pas membuat saya semakin menikmati menonton seri ini.

Meski menghadirkan cukup banyak karakter, saya rasa, karakter-karakter pendukung yang dihadirkan di sini tidak ada yang sia-sia. Karena punya persona dan latar belakang yang kuat, semua karakter punya peran terhadap jalannya cerita dan membuat ceritanya menjadi lebih berwarna. Dinamika hubungan antar karakter di sini pun terasa sangat masuk akal. Membuat saya bisa menerima keputusan-keputusan yang diambil oleh tiap karakter di sepanjang cerita.

Set atau latar yang digunakan di seri ini terlihat dibuat dengan serius. Terlihat dari set kantor dengan tumpukan dokumen serta ATK yang realistis hingga —yang menurut saya paling menarik— set restoran untuk rekaman podcast lengkap dengan shot-shot makanan yang sukses membuat saya membayangkan rasa makanannya.

Akting para aktor di beberapa adegan terasa agak cringe untuk saya. Namun, beberapa adegan terasa sangat natural apalagi saat Takamura menikmati makanan yang sedang di-review.

Salah satu hal menarik dari seri ini adalah sesi rekaman podcast-nya. Di dalam podcast, Takamura me-review kuliner-kuliner dari restoran jejaring (chain restaurant) favoritnya. Entah secara sadar atau tidak, Takamura Misono juga menceritakan kenangan-kenangan yang ada di makanan yang sedang dia review. Secara tidak langsung, sesi rekaman podcast ini menjadi tempat curhat sekaligus momentum untuk introspeksi bagi Takamura.

Ada satu kalimat di seri ini yang sangat kena ke saya. Kurang lebih bunyinya begini: "Jika kamu tidak membagikan perasaan ketika kamu melihat pemandangan indah atau memakan makanan enak, otakmu akan mati rasa dan rasa cinta kamu akan hal itu akan cepat hilang." Yang saya intrepetasikan secara sederhana menjadi "Kamu akan cepat kehilangan minat pada hal yang kamu sukai jika tidak membagikannya ke orang lain." Kalimat itu terus berputar di kepala dan menjadi salah satu pemicu saya menulis ini.

Secara keseluruhan, seri ini adalah seri sederhana yang sangat menghibur dan sangat cocok ditonton untuk menemani makan malam setelah hari yang melelahkan. Bisa ditonton secara gratis di channel youtube tv tokyo world wide.

Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!