Di ambang batas subuh yang dingin
menggigit,
sekeping dunia kecil teronggok sunyi.
Bukan bebatuan, bukan pula ranting layu,
tapi nadi hidup yang seharusnya
bertumbuh.
Sinar mata yang baru mengeja pagi,
terkunci rapat dalam balutan kain usang.
Memeluk dinginnya trotoar yang beku,
mencari hangat yang tak pernah ia
temukan.
Ia adalah janji yang tak sempat terucap,
benih cinta yang tercecer sebelum mekar.
Dibuang secepat embun menghilang,
oleh tangan yang seharusnya menggenggam
erat.
Tangisnya lirih, menggores sepi malam,
mencari wajah yang meninggalkannya pergi.
Di mana pelukan? Di mana lagu nina bobo?
Hanya bisikan angin yang menjawab pilu.
Ia tak tahu dosa apa yang ia bawa,
hanya tahu perihnya udara asing menusuk.
Menatap langit kelabu yang tak bertepi,
bertanya, "Mengapa aku harus
sendiri?"
Bukan mimpi buruk, ini adalah nyata,
Sebuah kisah tentang hati yang terbelah.