“AKU selalu merasa bahwa diriku adalah tokoh rekaan yang ditulis oleh seorang penulis amatir.”
Kau mengernyit, “Tokoh rekaan?”
“—yang ditulis oleh seorang penulis amatir”
***
Kau bengong, mencoba mencerna semua ini. Sebentar, katamu. Mari sedikit mundur ke belakang. Namamu barangkali tidak penting, tetapi kau perempuan dan usiamu dua puluh tiga, usia di mana kau merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan nasib namun masih cukup lugu untuk menuruti saran buruk seorang sahabat. Kau berdiri di depan Melawai Book Store, tempat yang disepakati untuk sebuah kencan buta yang, menurut sahabatmu, akan mengubah perspektifmu.
Lelaki itu datang tepat waktu. Ia lumayan tampan, dalam artian ia memiliki wajah yang mudah dilupakan jika kau tidak menatapnya lama-lama. Di tangannya, ia memegang Norwegian Wood-nya Murakami. Kau melihat buku itu, sampulnya yang khas dan pretensius, dan kau tidak bisa menahan diri.
"Kau tahu," katamu setelah berkenalan dan basa-basi, "seorang lelaki yang membaca Murakami di ruang publik biasanya memiliki nalar yang agak tidak beres."
Ia tidak tersinggung.
Ia justru tersenyum, “Kau benar," jawabnya datar. "Aku memang tidak beres.”
“Tidak beres bagaimana?”
“Aku selalu merasa bahwa diriku adalah tokoh rekaan yang ditulis oleh seorang penulis amatir.”
Kau mengernyit, “Tokoh rekaan?”
“—yang ditulis oleh seorang penulis amatir sehingga jalan cerita hidupku berantakan, latar cerita dan latar waktuku rumit, dan bolong di sana-sini. Itu semua mungkin karena penulisnya ketus dan malas melakukan riset."
Kau terdiam. Kau ingin tertawa, tapi ada sesuatu yang tulus sekaligus menyedihkan dari caranya bicara. Kalian berjalan menyusuri barisan buku, dan ia mulai memuntahkan draf kasar hidupnya. Ia bercerita tentang bapaknya—seorang lelaki dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada anaknya. Bapaknya yang memaksanya masuk studi administrasi meskipun ia pengin sekali belajar sastra.
"Setiap hari aku belajar sesuatu yang tidak kusukai," katanya
Kepadamu, dan hanya kepadamulah ia bercerita bahwa ia sedang belajar menulis cerpen sekarang. Ia bicara tentang struktur, tentang outline, tentang penokohan, dan semua tentang penceritaan yang mungkin tidak diketahui penulis amatir, seolah hidupnya bisa diperbaiki dengan revisi yang tepat. Kau mendengarkan, tapi pikiranmu melayang pada kopi yang mulai dingin di kafe seberang jalan. Kau menyadari bahwa ia tidak sedang mengajakmu berkencan; ia sedang mencari pembaca baru untuk hidupnya yang membosankan.
Di depan pintu toko buku, saat lampu jalan mulai menyala dan membuat bayangan kalian tampak lebih panjang dari aslinya, kau memutuskan untuk berterus terang. Di dalam kepalamu, kau sedang menulis kalimat penutup untuk pertemuan ini.
"Dengar," katamu, menatap matanya yang terlihat seperti statistik kegagalan. "Aku tidak tertarik padamu. Bukan karena kau tidak beres, atau karena bapakmu, atau karena kau kuliah administrasi. Hanya saja... aku lebih suka cerita yang sudah selesai. Dan kau sepertinya adalah draf yang tidak akan pernah rampung kau tulis sendiri."
Ia mengangguk. Tidak ada drama. Ia hanya berbalik dan hilang di antara kerumunan orang.
Tiga hari berlalu. Kau sudah hampir menghapus wajahnya dari ingatanmu ketika bel rumahmu berbunyi. Itu jam tujuh pagi. Kau membuka pintu dengan kantuk yang masih menggelantung, dan di sana ia berdiri. Rambutnya berantakan, matanya merah. Ia tidak mencoba masuk. Ia hanya menyodorkan gulungan koran lokal edisi hari itu ke dadamu.
"Halamannya sudah kutandai," katanya pendek.
“Sudah kubilang jangan datang,” katamu, namun ia tidak peduli.
"Cerpen pertamaku dimuat. Bacalah."
Kau menerima koran itu, merasakan tekstur kertasnya yang kasar dan berbau tinta murah. "Sudah kubilang, aku tetap tidak tertarik," katamu, suaramu serak karena bangun tidur.
"Aku tahu," jawabnya, mulai melangkah mundur ke arah gerbang seraya berkata, “Aku hanya ingin kau tahu bahwa penulis amatir yang menulis hidupku setidaknya memberiku satu adegan yang bagus hari ini."
Lalu ia pergi, berjalan cepat tanpa menoleh lagi, meninggalkanmu sendirian. Kemudian kau membacanya. Pelan-pelan.
***
AKU selalu merasa bahwa diriku adalah tokoh rekaan yang ditulis oleh penulis amatir. Penulis amatir yang tidak mampu menggunakan kata hubung yang pas, diksi yang menarik, dan menemukan istilah yang pas mengenai sesuatu. Misalnya, si penulis amatir itu tidak mampu menemukan istilah yang pas untuk perasaan ini; perasaan senang ketika ibuku memasak pindang balado untukku. Seharusnya ada istilah yang khas untuk kebahagiaan itu, namun ia malah mengalami glitch dan menyisipkan kata ambus ke dalam kepalaku. Sebuah kata yang tidak punya padanan di KBBI, namun terasa sangat akurat untuk mendefinisikan rasa hangat dan syukur yang meluap setiap kali aroma masakan Ibu menyambutku di pintu rumah. Aku merasa, jika aku bukan tokoh rekaan, aku pasti sudah menemukan kata yang lebih normal untuk bahagia. Tapi tidak, penulis yang amatir itu memilih ambus.
Setelah berminggu-minggu terjebak di kosan Haji Lawi yang pengap oleh tumpukan buku tua dan uap kaus kaki lembap, sebuah latar tempat yang terlalu klise untuk menggambarkan kemiskinan mahasiswa, aku memutuskan pulang. Aku butuh ambus itu; aku butuh pindang balado buatan Ibu untuk membilas segala macam teori naratologi yang membuatku merasa bahwa hidup ini hanyalah sekadar rangkaian plot point yang disusun secara ceroboh.
Namun, tidak lama setelah aku duduk, pintu depan berderit pendek. Aroma pedas-asam pindang balado yang seharusnya menjadi puncak ambus-ku mendadak terinterupsi oleh kehadiran yang lain: tanah basah, keringat masam, dan kretek. Itu bau Bapak. Sebuah kehadiran yang selalu terasa seperti gangguan naratif dalam hidupku sendiri. Aku sempat bertanya-tanya, apakah Bapak juga merasa bahwa dialog-dialognya telah ditentukan sebelumnya?
Bapak tidak langsung ke meja makan. Lelaki tua itu berhenti di dekat rak buku, tempatku menumpuk novel-novel BolaƱo bersampul aneh yang kubaca agar aku merasa lebih keren dari orang lain. Bapak melepas sepatu bot plastiknya yang berlumpur di sana. Lumpur sawah dan buku-bukuku kini saling mengotori satu sama lain. Bapak berdiri diam, memandangiku cukup lama. Tatapannya begitu datar, seolah ia sedang membaca deskripsi fisikku yang tertulis di naskah: anak muda dengan kacamata retak dan kebingungan eksistensial yang akut.
Aku melihat Bapak berjalan ke sudut ruangan, duduk di kursi rotan yang mengeluarkan bunyi kriet pelan. Ia menuang bir murahan dan minum dalam diam. Gelas itu mendarat di meja dengan bunyi tak yang definitif, menandakan adegan eksposisi telah selesai.
"Jangan lagi ikut diskusi sastra itu," kata Bapak tanpa menoleh. "Aku melihatmu di berita, berdemo menyoal keadilan sementara sepatumu itu dibeli dari hasil menggadai sertifikat rumah."
"Itu dua hal berbeda, Pak," jawabku. Aku merasa dialogku barusan sangat tidak orisinal, seolah aku sedang membacakan naskah drama murahan, "Diskusi itu untuk melatih pikiran. Demo itu untuk membela yang tertindas."
Bapak terkekeh pelan. "Pikiran tidak perlu dilatih kalau tidak ada yang kau kerjakan. Aku butuh kau lulus dan menebus rumah. Kau sibuk membedah buku, tapi tidak sadar rumah ini sedang runtuh pelan-pelan."
Ibu muncul membawa piring, bertindak sebagai penengah dalam komedi situasi keluarga yang teramat garing ini. Di piring saji, tersisa satu pindang utuh. Bapak bergerak tanpa keraguan. Ia membagi pindang itu lalu menyendok potongan daging paling tebal dan menjatuhkannya ke piringku. Plok. Minyak balado menodai nasi putihku yang rapi. Lalu, tanpa sepatah kata pun, Bapak meraih bagian kepala untuk dirinya sendiri. Aku terpaku melihat Bapak menghisap pipi ikan, membiarkan duri-duri itu nyaris melukai mulutnya sendiri agar aku bisa memakan bagian yang paling mudah ditelan.
"Ambus," gumamku pelan.
"Apa?" Bapak menengok ke arahku.
"Tidak ada apa-apa."
Bapak menatapku lalu kembali menyesap tulang ikan. Aku mulai menyuap. Rasanya pedas, namun ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan dan pipiku. Aku menyadari satu hal yang menyedihkan: aku mungkin dituliskan sebagai tokoh yang mahir membedah teks-teks paling rumit sewaktu diskusi sastra, tetapi pada akhirnya aku hanyalah karakter sampingan yang buta huruf di hadapan Bapak. Maka meski demikian, aku berharap si penulis amatir, atau siapapun yang menemukan draf ini, mengirimkan fragmen cerita ini kepada redaktur sastra di sebuah koran lokal yang tak ternama. Sehingga penulis-penulis amatir lain, atau si anak, atau si bapak, atau siapapun yang membaca ceritaku mampu menemukan kata serupa maaf, dan memaafkan.*
