Hari itu, Rengganis
pulang kerja seperti biasa. Rutinitas yang terus berulang sejak ia resmi
memasuki usia dewasa: bangun pagi, mandi, sarapan, bekerja, pulang, lalu tidur
seperti sedang simulasi mati.
Ah, tapi bohong.
Sebelum tidur, biasanya ia akan mandi lebih dahulu untuk membersihkan debu
jalanan, peluh sekaligus dosa-dosa kantor yang terasa menempel sampai ke
tulang. Setelah itu makan malam, meski hampir selalu diawali dengan rebahan
selama dua jam sambil menatap layar ponsel di kasur ruang televisi.
Baru setelahnya ia mandi sambil mencuci baju.
Ya, benar. Rengganis memang memiliki kebiasaan mencuci pakaian setiap kali
mandi agar cucian tidak menumpuk di kemudian hari, terutama saat rasa malas
datang dan mengambil alih diri dan kewarasannya.
Namun entah mengapa, sore itu kantuk menyerangnya lebih hebat dari biasanya.
Kepalanya terasa berat, tubuhnya pegal seperti diperas habis oleh hari, dan
matanya enggan terbuka lebih lama. Pada akhirnya, rasa kantuk menelannya
sebelum ia sempat menyentuh kamar mandi.
Beberapa jam kemudian, Rengganis perlahan terbangun. Matanya mengerjap pelan,
membiasakan diri pada cahaya senja yang remang-remang memasuki ruangan dan
retinanya. Dalam keadaan setengah sadar, tangannya refleks meraba sekitar kasur
mencari benda pipih kesayangannya, ponsel yang setia menemaninya melewati
hari-hari membosankan, meski bukan keluaran merek dengan logo apel digigit.
Namun yang disentuh jemarinya bukanlah ponsel. Hangat, lembut, seperti kulit
manusia. Rengganis langsung membuka mata. Di sebelahnya, seorang anak perempuan
kecil tidur membelakanginya? Hah?
“ANJIR—!”
Teriakannya memecah ruangan dan membuat anak itu terperanjat bangun dari
tidurnya dengan linglung. Mereka sama-sama terduduk dengan wajah syok, lalu
saling menatap selama beberapa detik dalam kebingungan yang sama.
Rengganis buru-buru mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Tatapannya
berhenti pada dinding bercat hijau pudar. Lemari kayu dengan gagang yang hampir
copot. Televisi tabung di depannya. Dan kipas tua di langit-langit yang berdecit
pelan setiap kali berputar. Napasnya tertahan.
“Loh... kok?” Suaranya mengecil, nyaris seperti bisikan, “Ini mah rumah waktu
aku kecil.”
Tatapannya perlahan kembali pada anak perempuan di depannya. Anak itu juga
sedang menatapnya dengan wajah bingung. Rambutnya, matanya, bentuk bibirnya, bahkan, tahi lalat kecil di bawah mata kanan itu sama. Persis sama. Tenggorokan
Rengganis mendadak terasa kering dan lidahnya kelu. Kepalanya dipenuhi
pertanyaan yang bertubrukan tanpa arah.
Mustahil. Anak kecil itu adalah dirinya sendiri? Dengan tangan sedikit gemetar,
ia mencubit pipinya berkali-kali. Sakit. Berarti ini nyata. Atau setidaknya
terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Neng ...” ucapnya pelan sambil menelan ludah. “Coba tampar teteh deh.”
Tanpa berpikir panjang, anak kecil itu langsung menamparnya.
Plaak!
“Kenceng banget, woy!”
Refleks, Rengganis membalas tamparan itu. Dan beberapa detik kemudian mereka
malah saling menjambak seperti dua orang yang sama-sama tidak terima.
“Aduh! Lepas!”
“Teteh duluan!”
Rengganis dewasa meringis ketika rambut pendeknya ditarik tanpa ampun,
sementara Rengganis kecil hampir menangis karena kulit kepalanya terasa perih.
Namun tak lama kemudian, keduanya berhenti sendiri. Mereka saling diam. Lalu
sama-sama sadar betapa konyolnya situasi tersebut. Keheningan canggung memenuhi
ruangan. Anak kecil itu menyipitkan mata, masih menatap penuh curiga.
“Teteh siapa?”
“Hah?”
“Teteh sodara aku ya?”
“Bukan.”
“Bohong. Masa muka kita mirip banget?!”
Rengganis dewasa terdiam sejenak. Anak kecil itu justru semakin bersemangat
menebak-nebak.
“Jangan-jangan teteh anaknya ayah sama istrinya yang lain ya?”
“Yaelah. Drama abis.”
“Terus siapa dong?”
Rengganis mengusap wajahnya frustasi, “Ini bakal kedengeran gila sih... tapi
aku itu ya kamu.”
Anak kecil itu langsung melongo, “Apaan? Drama abis.”
“Ih, serius. Aku Rengganis.”
“Ya, aku juga Rengganis.”
“Aku Rengganis versi gede.”
Hening.
Lalu—
“Ih, bohong!” Anak kecil itu langsung mundur sambil menatapnya ngeri, “Mana
mungkin aku jadi segede babon begini?!”
“Woy.”
“Kenapa rambutnya kayak cowok?!”
“Ini namanya wolf cut.”
“Bohong. Itu mah rambut amang-amang parkir.”
Rengganis memejamkan mata sambil menarik napas panjang, “Sekarang tahun
berapa?”
“2012.”
Jawaban itu membuat Rengganis terdiam. 2012. Saat itu usianya dua belas tahun.
Usia tanggung ketika seseorang belum bisa disebut anak kecil sepenuhnya, tetapi
juga belum cukup besar untuk memahami dunia dengan utuh. Usia ketika emosi
datang terlalu besar untuk tubuh sekecil itu.
Tahun ketika dirinya sedang ajaib-ajaibnya. Tahun ketika ia mulai sering
membantah mamah, membanting pintu, lalu menangis diam-diam setelahnya. Tahun
ketika ia merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengerti isi kepalanya.
Tahun ketika rumah terasa terlalu sempit untuk kemarahannya sendiri. Tahun
ketika ia mulai malu memiliki ayah yang lebih sering berada di rumah dibanding
ayah teman-temannya. Seorang ayah pensiunan dengan kaus rumahan lusuh yang
kesehariannya hanya menyapu halaman, menonton televisi, atau tertidur di kursi
bambu depan rumah saat sore datang. Sementara mamah pergi bekerja sejak pagi
dengan ojek.
Di usia dua belas tahun, Rengganis belum benar-benar mengerti apa itu lelah. Ia
hanya tahu mamah terlihat lelah. Dan ayah terlihat santai. Lalu seperti
kebanyakan anak seusianya yang belum paham cara mengolah kecewa, ia mengubah
kebingungannya menjadi marah. Marah pada keadaan. Marah pada rumah. Marah pada
hidup. Dan tanpa sadar, marah pada ayahnya sendiri.
Namun dua belas tahun adalah usia yang lucu. Usia ketika seseorang mulai merasa
dirinya paling terluka sedunia, padahal masih ingin dipeluk sebelum tidur. Usia
ketika mulut mulai berani membantah, tetapi hati masih gampang hancur hanya
karena nada bicara orang tua berubah sedikit. Usia ketika seseorang mulai ingin
dianggap dewasa, padahal masih takut gelap dan petir.
Dan seperti kebanyakan anak seusianya, Rengganis saat itu terlalu sibuk ingin
cepat dewasa. Ia mengira menjadi dewasa berarti kebebasan. Bisa pergi ke mana
saja. Bisa membeli apa saja. Bisa hidup tanpa dimarahi siapa-siapa. Padahal
ternyata, menjadi dewasa hanyalah bentuk lain dari kelelahan. Versi hidup yang
lebih sunyi. Lebih panjang. Dan lebih banyak kehilangan.
Namun semakin dewasa, semakin Rengganis sadar bahwa hidup mamah ternyata tidak
lebih mudah. Ia tumbuh sambil melihat mamah bekerja hampir setiap hari, memikul
rumah di pundaknya sendiri, marah-marah karena lelah, lalu tetap bangun pagi
seolah tidak terjadi apa-apa. Dan semakin Rengganis mengenal mamah sebagai
manusia, semakin banyak luka yang ikut ia temukan di sana.
Mereka terlalu mirip. Sama-sama keras kepala. Sama-sama mudah meledak.
Sama-sama gengsi meminta maaf. Mereka bisa tertawa bersama pagi hari, lalu
saling diam seperti orang asing di malam harinya. Hubungan mereka seperti
benang kusut yang ditarik dari dua arah berbeda—tidak putus, tetapi terus
melukai. Ada cinta di sana. Ada marah juga. Sebagai perempuan, Rengganis amat
mengerti mamah. Namun sebagai anak, Rengganis amat terluka.
Dan anehnya, keduanya saling bergantung satu sama lain. Apalagi setelah
kakak-kakaknya yang terpaut usia belasan tahun mulai sibuk dengan keluarga
masing-masing. Rumah perlahan menjadi terlalu sepi. Dan pembicaraan tentang
mamah sering berubah seperti lemparan tanggung jawab yang tidak ada seorang pun
benar-benar siap menangkapnya.
“Nanti mamah sama siapa?”
“Kalo mamah sakit gimana?”
“Siapa yang jagain?”
Pertanyaan-pertanyaan itu menggantung seperti awan mendung yang tidak pernah
benar-benar pergi. Pada akhirnya, Rengganis tetap menjadi orang yang paling
dekat dengan mamah. Sekaligus orang yang paling sering terluka karenanya. Dan
mungkin memang begitu bentuk cinta di beberapa keluarga. Tidak hangat. Tidak manis.
Tetapi tetap bertahan.
Rengganis kembali memandangi anak kecil di depannya. Tubuh berisi. Pipi bulat
yang sering dibilang menggemaskan. Mulut yang tidak bisa diam. Emosi yang
datang seperti ombak: keras, cepat, lalu reda begitu saja. Anak kecil yang keras
kepala, gampang ngambek, dan selalu ingin menang sendiri.
Namun, karenanya matanya masih menyimpan cahaya yang belum disentuh kenyataan.
Masih bening. Masih penuh rasa ingin tahu. Belum belajar menyembunyikan sedih
dengan bercanda. Belum terbiasa menelan kecewa sendirian. Belum tahu rasanya
mencintai seseorang sekaligus terluka karenanya.
Rengganis dewasa perlahan mendekat. Tangannya terulur pelan, merangkul tubuh
yang lebih muda itu dengan hati-hati, seolah takut dirinya sendiri akan pecah
bila dipeluk terlalu erat.
Rengganis kecil diam saja. Namun matanya terus memperhatikan wajah perempuan di
depannya dengan saksama. Tatapan polos yang terlalu jujur untuk disembunyikan.
Tatapannya turun dari rambut pendek Rengganis dewasa, lalu ke wajahnya yang
tampak lelah, lingkar samar di bawah mata, kulit kusam yang tidak serapi
perempuan-perempuan di televisi, hingga tubuhnya yang tak lagi sekurus masa
kecilnya.
Kening anak kecil itu perlahan berkerut. Dan tanpa sadar, kepalanya mulai
dipenuhi berbagai pertanyaan.
'Ih... Dia itu beneran aku?
Kenapa pas gede rambut aku jadi kayak cowok begitu sih?
Kok aku gak secantik kayak artis-artis di TV atau teteh-teteh lain sih?
Kenapa muka aku capek banget?
Kenapa mata aku sedih?
Emang pas gede nanti hidup aku susah ya?
Kenapa kulit aku kucel kayak gembel? Aku gak punya duit buat perawatan kah?
Kok badan aku jadi begini? Stres makan terus ya?
Kenapa senyum aku palsu kayak orang capek?
Bukannya nanti aku bakal sukses?
Bukannya aku bakal jadi penari? Atau pelukis?
Atau paling enggak kerja di kantor keren yang pake AC dingin banget?
Bukannya nanti aku kaya?
Punya mobil? Rumah?
Bisa beliin mamah apa aja?
Bisa bikin mamah berhenti kerja?
Bisa bikin ayah bangga?
Bisa naik hajiin orang tua?
Atau... jangan-jangan aku gagal?
Atau sebenernya pas gede nanti hidup aku hancur?‘
Anak kecil itu tidak mengucapkan satu pun isi kepalanya. Namun tatapannya
terlalu berisik untuk disembunyikan. Dan anehnya, Rengganis dewasa mengerti
semua pertanyaan itu tanpa perlu mendengarnya keluar. Karena tidak ada yang
lebih mengenal isi kepala seorang anak selain dirinya sendiri di masa depan.
Rengganis tersenyum kecil. Senyum tipis yang lebih mirip pasrah.
“Life happens, Rengganis,” ucapnya pelan. “Kadang manusia cuma bisa bikin
rencana. Sisanya Allah yang nentuin. Aku udah berjuang sebaik dan sekuat yang
aku mampu, tapi …”
Rengganis kecil masih diam. Maka Rengganis dewasa kembali bicara, suaranya
melembut seperti seseorang yang sedang berbicara pada luka lamanya sendiri.
“Kamu jangan buru-buru pengen gede ya.”
“Main yang puas.”
“Ketawa yang banyak.”
“Jangan terlalu mikirin omongan orang.”
“Dan jangan terlalu keras sama diri sendiri.”
Tatapannya perlahan melembut.
“Sayangin ayah.”
Kalimat itu keluar nyaris seperti bisikan.
“Walaupun sekarang kamu lagi kesel sama dia.”
“Walaupun kamu malu.”
“Walaupun kamu ngerasa ayah gak ngerti kamu.”
Rengganis kecil mulai menunduk pelan. Rengganis dewasa menarik napas sebelum
melanjutkan.
“Nanti suatu hari... kamu bakal kangen suara ayah batuk di ruang tamu.”
“Kangen ayah ngorok depan TV.”
“Kangen dipanggilin.”
“Kangen disuruh beliin kopi.”
“Kangen hal-hal kecil yang sekarang malah bikin kamu kesel.”
Matanya mulai memanas, tetapi ia tetap tersenyum.
“Dan soal mamah ...” ia berhenti sejenak. “Kalian nanti bakal sering banget
saling nyakitin.”
Rengganis kecil mengangkat kepala.
“Tapi kalian juga bakal saling butuh.”
“Kalian terlalu mirip buat bisa akur terus.”
“Jadi kalau mamah marah, jangan langsung dibales marah juga.”
“Kadang orang capek itu ngomelnya jadi lebih keras.”
Jam dinding di sudut ruangan mulai berdetak tidak beraturan.
Tik.
Tik.
Tik-tik-tik.
Udara mendadak terasa lebih berat. Rengganis melirik jam itu pelan.
Ia pernah membaca teori sederhana tentang bagaimana emosi, ingatan, dan tempat
tertentu dapat membuat kesadaran manusia seperti menciptakan lorong waktu kecil
di kepalanya sendiri. Ketika kenangan terlalu kuat dan perasaan terlalu penuh,
waktu seolah dapat bertubrukan sesaat. Dan entah mengapa, sore itu semuanya
terasa terlalu nyata untuk dianggap sekadar mimpi. Tubuh Rengganis dewasa
perlahan mulai tampak samar. Buram. Seperti gambar yang terkena air.
Rengganis kecil langsung membelalakkan mata. “Teteh...?”
Suaranya mulai gemetar. Namun Rengganis dewasa tetap melanjutkan kalimatnya
walau suaranya mulai melemah.
“Belajar yang rajin.”
“Jangan tinggalin gambar sama nari cuma karena orang lain bilang itu gak
penting, gak berguna, dan gak ngasilin duit.”
“Dan kalo nanti hidup bikin kita capek, ada masanya kita kalah dan gagal ...”
Ia tersenyum kecil.
“Jangan benci diri sendiri terlalu lama ya.”
Tubuhnya semakin memudar. Rengganis kecil mulai panik.
“Teteh?!”
Cahaya samar mengelilingi tubuh Rengganis dewasa seperti kabut tipis. Ruangan
terasa berputar pelan. Waktu yang bertubrukan perlahan kembali ke tempatnya
masing-masing. Dan tepat sebelum sosok itu benar-benar menghilang, Rengganis
kecil mundur beberapa langkah dengan wajah pucat.
“Ih... itu teh beneran aku?” Matanya membulat ngeri, “Atau setan sih itu?!”
Lalu saat tubuh Rengganis dewasa benar-benar lenyap dari hadapannya—
“MAMAAAHHH!” Ia langsung terbirit-birit keluar kamar sambil menangis ketakutan,
nyaris tersandung keset di depan pintu. Sementara kamar itu kembali sunyi.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun sejak hari itu, Rengganis kecil
menjadi takut tidur sendirian. Terutama tidur siang.