Telepon itu seharusnya sudah ditutup.
Jam hampir menunjukkan tengah malam
ketika aku menyadarinya layar ponsel temanku masih menyala, sambungan belum
terputus. Di luar, hujan jatuh pelan, seperti sengaja tidak ingin mengganggu
siapa pun. Di ujung sana, terdengar napas seseorang. Tidak tergesa. Tidak
asing. Hanya ada.
Aku mengulurkan tangan untuk menutupnya,
sampai suara itu lebih dulu memanggil.
“Halo… masih nyambung, ya?”
Nada suaranya tenang, seolah tidak
keberatan jika aku memilih pergi.
“Iya,” jawabku ragu. “Maaf, ini temanku
tadi nelpon.” “Oh,” katanya. "Gak apa-apa. Kalau mau ditutup juga nggak
masalah.” Tapi aku tidak menutupnya. Kami berbincang sebentar seperlunya saja.
Malam yang sama-sama sepi, lalu hening. Tidak ada janji untuk saling
menghubungi lagi, tapi ketika sambungan terputus, ada sesuatu yang tertinggal.
Seperti satu kalimat yang berhenti di tengah.
Telepon berikutnya terjadi dengan
sengaja. Tidak ada yang bertanya kenapa. Tidak ada yang pura-pura kebetulan.
Kami sama-sama tahu, dan memilih diam tentang itu.
Ada jeda singkat sebelum suaranya
terdengar.
“Halo.” Aku tersenyum tanpa sadar.
“Aku tahu ini kamu.” jawabku.
Ia tertawa kecil. “Aku juga.” timpal
nya.
Sejak malam itu, aku tak lagi menunggu
nama disebut. Suaranya cukup. Dari cara ia menarik napas sebelum bicara, dari
jeda yang selalu muncul seolah ia menimbang kata. Kami mulai saling menunggu
malam karena siang terasa terlalu bising untuk percakapan kami.
Obrolan mengalir pelan. Kadang tentang
hal-hal remeh, kadang tentang hidup yang tak pernah benar-benar rapi. Ada
hening yang panjang, tapi tidak pernah terasa kosong.
Suatu malam, ceritanya berubah arah.
“Aku sempat berhenti di satu titik,”
katanya. “Bukan karena nggak mau lanjut. Aku cuma… capek.”
“Capek sama apa?” tanyaku.
“Hidup yang nggak jadi sesuai rencana.”
Ia bercerita tentang keputusannya
melanjutkan pendidikan di usia yang tak lagi muda, tentang perasaan tertinggal,
tentang bagaimana usia sering terasa seperti dinding yang makin dekat. Suaranya
stabil, tapi aku tahu itu suara seseorang yang sedang menahan runtuh.
“Ada hal yang aku kira sudah selesai,”
katanya lagi. “Ternyata cuma ditinggal.” Aku tidak bertanya siapa. Ada luka
yang lebih aman diceritakan tanpa nama.
“Aku lagi nggak di versi terbaik,”
ucapnya pelan.
" Gak apa-apa,” jawabku.
“Aku juga gak minta apa-apa.”
Hening lama menyusul. Lalu napasnya
terdengar lebih berat.
“Terima kasih,” katanya. Dan entah
kenapa, kalimat sesederhana itu terdengar seperti permohonan maaf.
Sejak itu, suaranya menjadi bagian dari
malamku. Aku mengenali perubahan nadanya ketika ia lelah, ketika ia pura-pura
baik-baik saja. Ia mengenali diamku yang bukan marah, bukan bosan, hanya sedang
menata perasaan. Kami mulai nyaman. Terlalu nyaman, mungkin. Dan di sanalah
jaraknya lahir. Ia menjadi lebih hati-hati. Lebih sering tertawa singkat, lalu
mengganti topik. Seolah ia takut melangkah terlalu dekat, takut menjadikan aku
tempat singgah dari patah yang belum sembuh.
Panggilan itu muncul tanpa rencana.
“Kamu tuh kuat,” katanya suatu malam.
“Atau terbiasa sendiri?”
Aku tersenyum. “Mungkin dua-duanya. Aku
jones, sih.”
“Jones?” tanyanya dengan nada
penasaran
“Iya. Jarang ada yang nemenin. Ia
tertawa, lebih lepas dari biasanya.
“Berarti aku jomblo yang belum selesai.”
Sejak saat itu, panggilan itu tinggal. Ia
memanggilku Jones ringan di suara, dalam di rasa. Aku memanggilnya Jomblo
seolah itu nama yang hanya aku tahu cara mengucapkannya.
Di satu malam yang tidak terlalu larut,
ketika obrolan kami mengalir tanpa arah yang jelas, ia tiba-tiba menyebut
sesuatu yang sudah sering ia ceritakan sebelumnya.
“Kamu masih ingat Ruang teduh itu?”
tanyanya.
“Yang dekat rumah kamu?”
“Iya.” jawabnya singkat. Aku tersenyum.
“Yang setiap kali kamu selalu bilang, kapan-kapan ke sini ya’.”
Ia tertawa kecil. “Iya. Aku nyebelin,
ya.”
“Enggak,” jawabku jujur. Cuma… hidup kita
enggak pernah benar-benar ketemu waktunya. Aku memang tak pernah benar-benar
sampai ke sana.Yang bisa kulakukan hanyalah mengirim buku satu kotak dus, lalu
kotak dus lain menyusul. Cerita anak-anak, buku bergambar, beberapa novel
tipis. Itu saja.
“Anak-anak di sini suka,” katanya suatu
malam.
“Kamu harusnya lihat cara mereka duduk
lesehan, rebutan baca.”
“Kamu aja yang lihat,” kataku.
“Aku kebagian dengarnya.”
“Tapi aku ingin lihat kamu ada di sana,
membacakan buku-buku untuk anak-anak". katanya pelan.
“Bukan cuma bukunya.” Aku terdiam
sebentar. “Kadang, datang itu bukan soal jarak. Tapi soal waktu yang nggak
pernah sepakat.” Ia tidak membantah.
Malam-malam kami semakin panjang.
Percakapan semakin pelan. Hingga suatu malam, suaranya terdengar berbeda lebih
hati-hati, seperti seseorang yang berdiri di tepi sesuatu.
“Nes,” katanya.
“Iya, blo?”
“Aku sering mikir…” Ia berhenti. Lalu
tertawa kecil, seperti menertawakan dirinya sendiri.
“Harusnya gak usah mikir sejauh itu, ya.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut salah niat.”
Jantungku berdegup lebih pelan, seolah
takut mengganggu kata-katanya.
“Aku nyaman sama kamu,” katanya
akhirnya.
“Terlalu nyaman untuk seseorang yang
belum selesai.” lanjutnya.
Aku menelan napas.
“Terus?”
Kalau aku ketemu kamu di waktu yang lebih
utuh,” ucapnya lirih,
“mungkin aku nggak akan setakut ini.”
Kalimat itu menggantung. Tidak jatuh. Tidak juga diambil kembali.
Aku ingin berkata banyak hal. Tapi aku
tahu ada pengakuan yang tidak perlu dipaksa keluar.
“Aku di sini,” kataku pelan. “Itu aja.”
Ia tidak langsung menjawab. Hanya
napasnya yang terdengar. Lama.
“Takutnya, aku bikin kamu berharap,
padahal aku belum bisa ke mana-mana.”
Aku tersenyum, meski ia tak bisa
melihatnya.
“Kadang, ditemani aja udah cukup.”
Telepon malam itu ditutup lebih pelan
dari biasanya. Sejak malam itu, kami masih berbincang. Tidak sesering
dulu, tidak sedalam sebelumnya, tapi selalu jujur. Selalu hangat.
Hingga suatu malam, setelah percakapan
yang terlalu singkat.
“Ness,” katanya di ujung telepon.
“Iya?” jawabku singkat.
“Apa kamu pernah merasa… kehilangan
sesuatu yang belum sempat kamu miliki?”
Aku terdiam.
"Rasanya gimana?” tanyanya,
hati-hati, seolah takut jawabanku akan mengubah sesuatu.
“Kayak ditinggal di tengah jalan,” kataku
pelan.
“Padahal belum sempat sampai
mana-mana.” Ia tertawa kecil, getir.
“Berarti bukan aku aja.”
“Kenapa kamu nanya?” Ada jeda. Aku bisa
mendengar napasnya ditarik dalam-dalam.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Takut kalau aku terus di sini, kamu
ngira aku mau tinggal.” Aku menelan ludah.
“Terus?” jawabku singkat.
“Padahal ada bagian dari aku yang
masih berantakan. Dan aku nggak mau kamu ikut kebawa.”
“Kamu nggak pernah minta aku ikut,”
jawabku.
“Kamu cuma… ada.”
“Itu yang bikin aku takut,” katanya
jujur.
“Karena kehadiranmu gak ribut, tapi
terasa.” Aku tersenyum samar.
“Kalau suatu hari kamu pergi, aku lebih
siap kehilangan daripada berharap tanpa tahu arahnya.” ia terdiam lama.
“Jones,” katanya lagi, lebih lirih.
“Iya, blo?”
“Aku nyaman sama kamu.” Kalimat itu
keluar begitu saja, tanpa pengaman. Dadaku menghangat sekaligus nyeri.
“Aku tahu.”
“Tapi aku belum bisa jadi apa-apa,”
lanjutnya. “Dan aku nggak mau kamu nunggu sesuatu yang belum tentu.” Aku
menarik napas pelan.
“Aku nggak nunggu. Aku cuma dengerin.”
Hening kembali jatuh di antara kami.
Bukan hening yang kosong lebih seperti ruang yang penuh oleh hal-hal yang tak
berani disebutkan.
Di ujung sana, napasnya terdengar berat.
“Kalau aku berhenti menelepon suatu hari
nanti,” katanya,
“itu bukan karena kamu salah apa-apa.”
Aku memejamkan mata.
“Aku tahu.” Ia tidak langsung menutup
sambungan. Seolah masih ada satu kalimat yang ingin ia ucapkan, tapi memilih
menyimpannya.
Telepon itu tetap menyala.
Dan untuk beberapa detik, kami hanya
saling mendengar napas masing-masing
tak ingin menjadi yang pertama pergi.
Karena ada pertemuan yang tak pernah
benar-benar dimulai, tapi entah bagaimana, selalu terasa seperti kehilangan
saat harus selesai.