@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Pukul Setengah Lima: Kenapa Kita Sering Membenci Diri Sendiri?


Aku sedang berkeliling menyusuri setiap lorong rak buku di Gramedia mencoba mencari sebuah buku baru untuk ku baca, hingga aku berhenti dan mengambil sebuah novel yang sampulnya dominan berwarna biru gelap. Hal yang pertama kali ku lihat di buku itu ialah sang nama penulis, Rintik Sedu, nama yang seringkali muncul di FYP TikTok-ku yang sekarang ku-follow. 

Rintik Sedu, namanya besar. Orang mungkin tahu namanya meski belum pernah membaca karyanya, begitupun aku. Geez & Ann mungkin jadi judul karya yang melekat padanya, namun buku ini yang akan melekat dipikiranku ketika mendengar namanya.

“Pukul Setengah Lima” judul yang tidak membuatku tertarik pada awalnya hingga aku membaca bagian belakang buku tersebut. “Alina membenci hidupnya. Ia menciptakan realitas baru dengan menjelma menjadi seseorang bernama Marni ketika berkenalan dengan laki-laki yang ia temui di bus….”. Aku sangat tertarik setelah membaca blurb-nya dan tidak berpikir panjang lagi untuk membelinya. Pukul Setengah Lima, ternyata bukan sekadar penunjuk waktu di mana hari mulai meredup, melainkan metafora tentang ambang batas. Batas antara siapa kita sebenarnya dan siapa yang kita inginkan.

Membaca halaman-halaman awal, aku langsung disuguhkan oleh kepahitan. Alina membenci dirinya, bukan karena dia jahat, tapi karena dia bosan. Dia lelah menjadi Alina yang stagnan. Di sinilah teori tentang escapism itu bekerja dengan sangat rapi, ketika realitas terlalu menyakitkan atau membosankan, otak manusia cenderung menciptakan skenario alternatif untuk bertahan hidup.

Bagi Alina, skenario itu bernama "Marni"

Ketika Alina bertemu Danu di bus dan mengaku sebagai Marni, aku tidak melihatnya sebagai kebohongan. Aku melihatnya sebagai jeritan minta tolong. Marni adalah kanvas kosong. Sebagai Marni, Alina bisa tertawa lepas, bisa dicintai, dan yang terpenting, bisa melupakan bahwa hidupnya sebagai Alina sedang berantakan.

Terkadang, menjadi orang asing lebih melegakan daripada menjadi diri sendiri yang penuh dengan ekspektasi gagal. Lebih ironisnya, bisa jadi bukan ekspektasi diri sendiri, melainkan ekspektasi orang lain yang gagal kita wujudkan. 

Buku ini memaksaku berkaca.

Pertanyaan "Kenapa kita sering membenci diri sendiri?" terjawab perlahan di setiap babnya. Kita membenci diri sendiri bukan karena kita kurang hebat, tapi karena kita sering kali menolak kenyataan. Kita ingin hidup di "Pukul Setengah Lima" selamanya, waktu di mana segalanya terasa samar, romantis, dan belum gelap sepenuhnya. Kita, seperti Alina, sering kali memilih ilusi yang indah daripada kebenaran yang pahit.

Halaman demi halaman rasanya seperti sedang dikuliti. Ada rasa sesak yang familiar. Rasa takut kehilangan validasi dari orang lain jika mereka tahu siapa kita yang sebenarnya.

Pada akhirnya, menutup buku ini menyisakan rasa aftertaste yang getir tapi melegakan. Pukul Setengah Lima bukan cerita cinta yang manis. Ia adalah tamparan realitas bahwa lari dari diri sendiri hanya akan membawamu kembali ke titik start seberapapun kencang dirimu berlari, dengan napas yang lebih habis dan hati yang lebih berantakan.

Alina mengajarkanku satu hal penting: Kita tidak bisa mencintai orang lain dengan benar, selama kita masih sibuk membenci orang yang kita lihat di cermin setiap pagi.

Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!