Hidup disusun dari angan-angan,
mimpi tumbuh tenang di kepala,
terlihat dekat saat dibayangkan,
namun jauh ketika dijalani.
Kenyataan datang tanpa aba-aba,
mematahkan rencana yang disimpan,
tak semua harap diberi waktu,
tak semua mimpi menemukan jalan.
Di kepalaku,
masa depan berjalan rapi, mimpi-mimpi berdiri tegak seperti bangunan tanpa retak.
Namun ketika kubuka mata, semuanya hanya sketsa di kertas yang mudah sobek.
Maka hidup pun menjelma puisi fiksi:
indah saat dibaca, rapuh saat dijalani.
Mimpi hanya tinggal judul, sementara isinya
tak pernah benar-benar terjadi.
Maka puisi ini disebut fiksi,
tentang hidup yang ingin nyata,
ditulis dari harap yang lelah,
dan mimpi yang gagal menjadi dunia.
(Sela Nuraeni, 2025)
