@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Ulasan Selasa Bersama Morrie

Setelah didiagnosis mengidap penyakit yang membuat seluruh sel di tubuhnya mati perlahan, Morrie Schwartz, bersama mahasiswa abadinya, Mitch Albom, memutuskan untuk mengerjakan sebuah proyek tesis terakhir yang berisi banyak pelajaran hidup. Pada akhirnya, tesis itu diberi judul Tuesdays with Morrie.

Selasa Bersama Morrie adalah terjemahan bahasa Indonesia dari buku karya Mitch Albom, Tuesdays with Morrie. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2009; sebuah memoar manis sepanjang 192 halaman.

Buku ini mengisahkan "perkuliahan" seorang profesor sosiologi Amerika di Universitas Brandeis yang bertahan dari penyakit mematikan bersama Mitch Albom, satu-satunya mahasiswa yang mengontrak "kelas" terakhir Morrie. Kisahnya diceritakan melalui sudut pandang penulis yang mengunjungi Morrie setiap hari Selasa.

Pertemuan rutin ini awalnya terjadi secara tidak sengaja. Mitch Albom yang sedang melakukan aksi mogok kerja tidak sengaja melihat Morrie—yang sudah belasan tahun tidak ditemuinya—muncul di acara televisi. Mengingat janji dengan Morrie saat kelulusannya, Mitch Albom memutuskan untuk mengunjungi Morrie yang ternyata sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Namun, siapa sangka, pertemuan yang diniatkan hanya sebagai nostalgia dengan profesornya berubah menjadi ladang pelajaran hidup, bukan hanya bagi Mitch, melainkan juga bagi para pembaca buku ini.

Tiap kelas Morrie diisi dengan diskusi yang membahas kejadian masa lalu hingga memberikan sudut pandang pada kejadian masa kini. Buku ini lebih fokus pada pandangan-pandangan Morrie soal hidup yang disampaikan dengan gaya dialog sehingga membuatnya lebih mudah dibaca. Di samping itu, beberapa pandangan yang disampaikan oleh Morrie juga dipicu oleh pertanyaan Mitch Albom yang didasari oleh kondisinya saat itu.

Pandangan-pandangan Morrie soal hidup terasa menarik karena didasari sudut pandang yang tidak umum. Diceritakan bahwa beberapa buah pikiran Morrie bahkan dianggap naif karena tidak akan menghasilkan keuntungan bisnis atau memenangkan sebuah kasus hukum. Namun, gagasan-gagasan yang dianggap naif itulah yang membuat Morrie dicintai dan dikunjungi oleh banyak mantan mahasiswanya.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana—entah karena memang seperti itu gaya bahasa Morrie—yang membuat nasihat-nasihatnya menjadi mudah diterima. Meski begitu, ketiadaan tanda kutip pada kalimat yang diucapkan Mitch membuat saya cukup kebingungan untuk membedakan antara dialog dan narasi.

Bagian yang paling saya suka dari buku ini adalah saat Morrie berkata, "Penuaan tidak selalu berarti pelapukan, tetapi juga bisa berarti pertumbuhan." Perkataannya itu terasa lebih meyakinkan setelah saya membaca bukunya lebih lanjut, di mana Morrie yang kemampuan fisiknya semakin melemah dari hari ke hari justru mampu menghasilkan buah pikiran baru.

Pandangan saya soal beberapa hal berubah setelah membaca buku ini, seperti soal hubungan, kematian, hingga makna hidup yang sesungguhnya.

Buku ini tersedia di iPusnas.

Layak dibaca!

Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!