Di bawah lampu kota yang pucat,
semesta mempermainkan takdir dengan
kejamnya—
mempertemukan aku dan kamu
di saat hatiku belum selesai mengubur
namamu.
Kamu datang,
dengan senyum yang dulu pernah jadi
rumah,
namun kini diberikan pada orang lain.
Perempuan di sampingmu itu tertawa pelan,
dan aku hancur
dengan cara yang paling sunyi.
Kita papasan sebentar.
Cuma beberapa detik.
Tapi cukup untuk membuat seluruh kenangan
bangkit seperti luka lama yang dipaksa
hidup kembali.
Aku diam.
Berusaha terlihat biasa saja,
meski dalam dada
ada ribuan kata yang runtuh bersamaan.
Ironis ya,
aku masih sibuk menyusun serpihan
tentangmu,
sementara kamu sudah nyaman
menulis cerita baru dengan orang lain.
Dan malam itu aku sadar—
ternyata kehilangan paling menyakitkan
bukan saat seseorang pergi,
melainkan saat dia kembali terlihat
namun tak lagi bisa dimiliki.