Malam memanjang, melahirkan pertanyaan-pertanyaan prematur.
Bila seekor ikan berkeras mencintai daratan,
apakah ia juga akan mencintai cara pasir yang kering
menyumbat insangnya pelan-pelan?
Kesepian adalah tamu yang menolak diusir dari kamarku.
Ia menyeduh kopi hitam, duduk diam, dan menganggapmu
sebagai kota yang menelan habis jalan pulangku.
Kiasan murahan tentang ingatan dan bonsai yang mati
sebab kita terlalu sibuk bertengkar tentang siapa yang mesti menyiramnya.
Pada akhirnya, kita cuma sepasang badut dengan riasan luntur.
Mengisap kretek di beranda, menunggu kiamat tiba,
menertawakan nasib dan tuhan yang kabarnya sedang mengambil cuti.
Tidakkah kau dengar lonceng gereja berdentang di kejauhan?
Orang-orang membunuh laut untuk mendirikan pelabuhan beton,
lalu pura-pura menangisi ikan-ikan yang melompat bunuh diri.
Seorang pria menatap cermin di atas wastafel,
mencari masa mudanya yang tertinggal di dekade sembilan puluhan.
Ia memandang jurang, dan jurang membalas menatapnya dengan raut bosan.
Ada hujan yang batal jatuh di luar jendela,
namun genangannya merembes masuk, membusukkan dada.
Merindukanmu, sialnya, adalah kutukan kelas menengah yang paling puitis.
Siapa yang sudi menelan matahari pagi yang dingin?
Zarathustra turun dari gunung hanya untuk menyeduh mi instan,
melihat manusia terakhir bersujud pasrah pada layar keruh.
Bila waktu memang lingkaran yang berulang tanpa ujung,
aku akan kembali mencintaimu di titik mula yang persis sama,
dengan kebodohan yang utuh dan serupa
Lampu jalanan berkedip menyerupai sandi morse dari malaikat maut.
Sebuah proyektor mendadak menyala di dalam batok kepalaku,
memutar film bisu hitam-putih tentang kita berdua:
dua orang sinting yang saling menikam dengan setangkai mawar.
Aku berhenti merokok kemarin siang dan memulainya lagi hari ini.
Konsistensi hanyalah bualan terbesar peradaban modern,
sama palsunya dengan cinta, dan cinta
Jam dinding adalah algojo yang memenggal kita detik demi detik.
Namun, jika dihabiskan bersamamu, aku rela mati lebih lambat.
Menarilah di tepi jurang kalau kau berani, teriak sang nabi tua.
Tapi kita terlalu lelah setelah diperas dari jam sembilan ke jam lima,
hanya mampu telentang di atas ranjang dan rentetan penderitaan.
Cerita ini tak punya manusia
Hanya dialog bahasa asing tanpa takarir di dasar layar.
Malam masih sangat panjang, pertanyaan-pertanyaanku mengeras jadi fosil.
Bila ikan memang menolak lupa pada pantai,
biarkanlah ia mati mengering
(2026)
.png)