@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Hidup Memanglah Begini-Begini Saja


Kau dibesarkan oleh sebuah kebohongan banal yang diulang sedemikian rupa hingga mengendap layaknya kebenaran mutlak. Sejak kecil, melalui deretan buku pelajaran atau petuah usang orang-orang tua, kau dipaksa menelan gagasan bahwa setiap manusia lahir ke muka bumi membawa sebuah takdir agung. Ada tugas suci, kata mereka, yang harus kau temukan dan pecahkan. Orang-orang menyebutnya dengan berbagai rupa kosa kata. Ada yang menamainya panggilan jiwa, misi kehidupan, dan belakangan, buku-buku motivasi yang laku keras di rak-rak toko mempopulerkannya sebagai ikigai. Kau diindoktrinasi untuk senantiasa percaya bahwa tanpa menemukan hal tersebut, hidupmu tak lebih dari sekadar rongsokan sejarah. Kau akan dianggap cuma numpang lewat, sebuah eksistensi malang yang sia-sia dan patut dikasihani.

Tekanan sinting macam itu niscaya membuat siapa saja yang kepalanya masih waras menjadi setengah gila, terutama bagimu yang usianya kini genap menginjak seperempat abad. Di usia dua puluh lima, kau kerap dipaksa menengok ke kanan dan ke kiri, mengamati kawan-kawan sebaya yang dari luar seolah-olah telah menggenggam peta jalan menuju kejayaan. Orang-orang di sekitarmu sibuk memburu arti hidup seolah makna itu adalah kepingan emas peninggalan VOC yang terkubur di bawah bantal, di dasar lautan, atau di sudut-sudut gemerlap ibu kota. Padahal, jika kau mau sedikit saja jujur, melonggarkan urat leher dan berhenti menipu diri sendiri, kau niscaya akan tiba pada satu kesimpulan yang mungkin terdengar pekat oleh pesimisme tetapi sesungguhnya teramat melegakan. Hidup ini, pada dasarnya, murni tidak memiliki arti apa-apa. Ia tak punya narasi raksasa yang sedang merayap perlahan menuju satu akhir yang epik. Tidak ada plot cerita yang tersusun rapi layaknya naskah sinema atau lakon panggung. Hidup ini ya cuma begini-begini saja.

Kau mungkin sering memikirkan ihwal kesia-siaan ini saat sedang berdiri mematung di lantai produksi, menatap jalannya raksasa-raksasa baja yang terus berputar berjam-jam tanpa kenal ampun. Mesin-mesin mekanis itu menelan material mentah apa saja yang dilemparkan ke dalam rahangnya, menggilas dan mengaduknya tanpa henti, meleburnya menjadi satu adonan kental yang kelak diproduksi massal menjadi komoditas industri. Entah ia akan dirakit menjadi bagian dari kendaraan yang dipakai seseorang untuk minggat dari kelurga dan tanggungjawabnya, atau hanya berakhir menjadi perkakas yang suatu hari dibuang begitu saja ke tempat penampungan akhir.

Di tengah kebisingan mekanis itu, sembari mengawasi proses industrial yang berulang layaknya kutukan para dewa, kau pelan-pelan menyadari betapa absurdnya ambisi spesies manusia. Kau menukar setidaknya delapan jam sehari, memeras keringat dan waktu hidupmu, demi sejumlah upah yang sebagian besarnya menguap seketika untuk membayar ongkos agar kau tetap bernapas dan bisa kembali mengulangi rutinitas yang sama keesokan harinya. Siklus itu berputar terus menerus, presisi dan terlampau dingin, persis seperti rahang baja pengaduk di hadapanmu. Jika kau masih nekat mencari makna filosofis yang maha agung dari rutinitas kelas pekerja semacam itu, kau pada akhirnya hanya akan membenturkan kepalamu sendiri ke kloset murahan yang sudah tidak putih lagi.

Tentu saja, ada masa-masa ketika kau mencoba memberontak dan merubuhkan rutinitas tengik itu dengan mencari pelarian. Malam harinya, ketika tulang punggungmu sejatinya sudah menjerit meminta kasur dan matamu kian perih, kau justru memaksakan diri duduk menghadap layar pendar. Kau mencoba merakit sebuah semesta tandingan. Kau merangkai nasib tokoh-tokoh rekaan, mengetik baris demi baris merampungkan naskah sebuah cerita fiksi berdurasi panjang, lantas mengirimkannya ke ruang redaksi jurnal alternatif pinggiran. Kau berharap ada sepasang mata asing yang sudi mengunyah deretan kalimatmu dan merasa diselamatkan atau setidaknya terhibur. Kau mungkin sempat berpikir, jika realitas hidupmu sendiri tidak memiliki alur yang jelas, kau setidaknya masih bisa menjadi tuhan kecil atas narasi yang kau ciptakan sendiri dari ketiadaan.

Di waktu-waktu luang yang tersisa, kau juga mencoba merawat kesibukan yang seolah-olah menjanjikan jembatan menuju masa depan. Kau menyewa nama domain, mengutak-atik deretan kode logika, dan merakit konfigurasi hosting demi membangun sebuah ruang kerja mandiri di belantara internet. Kau merancang ekosistem maya itu bait demi bait, entah siapa kelak klien yang sudi mampir melihat etalasemu. Semua itu, disadari atau tidak, kau lakukan dengan sebentuk keyakinan naif bahwa kau sedang meninggalkan jejak kaki di bumi, bahwa kau sedang memahat namamu di prasasti kehidupan agar tak lekang dilibas zaman.

Namun, lambat laun, gravitasi realitas akan membetotmu turun. Kau akan menyadari bahwa semua ikhtiar itu pun sejatinya tidak mengantongi makna bawaan dari langit. Cerita rekaan yang kau tulis mungkin hanya akan dibaca oleh segelintir orang, lalu pelan-pelan karam ditelan ribuan tautan artikel lain yang diproduksi setiap detik. Lanskap digital yang susah payah kau kembangkan mungkin suatu hari akan menjadi rongsokan maya semata karena kau kehabisan dana untuk membayar tagihan sewa tahunan. Karya audio yang kau sebar ke platform global mungkin hanya menjadi derau samar di tengah jutaan lagu lain yang antre di pasar digital. 

Dan tahukah kau di mana letak keindahannya? Semua kesia-siaan itu sama sekali bukan masalah.

Kenyataan bahwa segala pencapaianmu pada akhirnya tidak berarti apa-apa dalam skala kosmik jutaan tahun cahaya, justru memberimu sebuah kebebasan eksistensial yang paripurna. Ketika kau berani menanggalkan beban ilusional untuk menjadi penting, ketika kau berhenti memaksa diri berburu arti hidup yang sedari awal tak pernah ada jaminannya, saat itulah kau baru benar-benar mulai menjalani kehidupan. Jika bumi pada dasarnya adalah sebuah planet berbentuk kue cucur yang tak punya makna bawaan, maka kau sendirilah yang memegang otoritas penuh untuk mencorat-coret kekosongan itu dengan apa pun yang kau mau. Kau tak perlu memikirkan apakah corat-coret itu terlihat mulia atau bernilai sejarah di mata peradaban kelak. Kau tak lagi memikul beban takdir untuk menjadi tokoh protagonis yang bertugas menyelamatkan dunia dari kehancuran. Kau secara sah diizinkan untuk menjadi figuran yang sekadar menikmati sate padang, meminum kopi instan hampir expired, dan menatap jalanan yang dipenuhi tahi kucing yang baunya minta ampun.

Di titik nol inilah letak krusialnya mencari dan merawat kesenangan-kesenangan kecil. Karena hidup pada akhirnya cuma begini-begini saja, yang membuatnya tetap patut dirayakan hanyalah hal-hal sepele yang bisa kau tunggu kedatangannya dengan dada berdebar. Kesenangan ini tak butuh legitimasi pencapaian kelas menengah atau validasi pengakuan sosial. Kesenangan ini adalah hal-hal remeh yang berfungsi murni sebagai jangkar penyeimbang, menahan sisa-sisa kewarasanmu agar tidak hanyut digulung kehampaan hari-hari mesin yang monoton.

Kesenangan itu bisa mewujud dalam sensasi kekanakan menanti episode demi episode animasi Jepang, melihat umat manusia bertarung putus asa melawan raksasa. Kesenangan itu juga bisa hadir dalam wujud tawa yang meledak sendirian di tengah jalan, tatkala telingamu disumpal oleh celotehan absurd nan ugal-ugalan dari episode terbaru Podcast Seminggu. Membiarkan obrolan ngalor-ngidul yang tak punya pretensi intelektual itu menemani perjalanan pulangmu, sejenak membius kepalamu dari rutinitas yang membikin muak.

Kesenangan itu bisa berupa tarikan napas panjang penuh kelegaan saat kau memadamkan layar komputer setelah seharian memelototi error pemrograman yang tak kunjung selesai. Kesenangan itu adalah rasa aman yang ganjil usai kau menuntaskan birokrasi negara yang menjemukan, menekan tombol kirim untuk laporan pajak tahunan elektronikmu tanpa kurang suatu apa pun. Kesenangan itu adalah menenggak segelas es teh manis buatan warung pinggir jalan, yang disajikan dengan sedotan plastik yang terus dicuci-pakai ulang oleh penjualnya, setelah berpanas-panasan menembus lalu lintas yang dikutuk kemacetan.

Banyak orang lupa bahwa manusia sejatinya adalah karnivora waktu yang sangat sederhana. Kau bisa bertahan melintasi minggu kerja yang penuh tekanan dan menuntut tenaga fisik, hanya bermodalkan secercah janji bahwa di akhir pekan nanti kau bisa makan sedikit lebih enak, tertawa mendengar lawakan tongkrongan dari pelantang telinga, atau rebahan seharian di atas kasur tipis tanpa dihardik suara alarm. Hal-hal kecil yang kau tunggu itulah yang membeton kerangka kehidupanmu, bukan tujuan agung yang sering dijual oleh pembicara motivasi. Kita pada akhirnya hanya hidup dari satu hari libur ke hari libur berikutnya, dari satu rilis episode ke episode selanjutnya, dari satu piring nasi ke piring nasi lainnya.

Celakanya, tatanan masyarakat kontemporer gemar meremehkan ketahanan semacam ini. Mereka melabeli hidup yang digerakkan oleh perburuan kesenangan-kesenangan kecil sebagai hidup yang hedonis, tuna-misi, dan berpandangan sempit. Kaum kelas menengah yang terbuai oleh literatur pengembangan diri merasa bahwa manusia harus selalu menderita, menahan lapar dan dahaga dari kesenangan masa kini, demi menebus sebuah masa depan gilang-gemilang yang sebetulnya murni fatamorgana. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, masa depan itu tak pernah benar-benar datang menghampirimu. Ketika titik waktu yang diangan-angankan itu akhirnya tiba, ia sudah berubah wujud menjadi hari ini, dengan segala keruwetan finansial dan tagihan cicilannya sendiri. Jika kau terus-menerus menunda kebahagiaan demi meraba-raba arti yang lebih besar, kau niscaya akan berbaring di ranjang kematian dengan perasaan dikhianati oleh waktu, menyadari dengan perih bahwa kau telah menyia-nyiakan satu-satunya dimensi yang benar-benar terasa milikmu, yakni detik ini juga.

Menerima dengan lapang dada bahwa hidup tidak ada artinya sama sekali bukan legitimasi untuk melempar dirimu ke dalam jurang depresi atau mengubahmu menjadi nihilis tengik yang kerjanya cuma mengutuk keadaan sosial. Sebaliknya, ini adalah sebuah undangan terbuka untuk bersikap lebih rileks dalam menatap dunia. Kalau segalanya tidak bermakna, maka segala kegagalanmu juga sama tidak berartinya. Kesalahan tolol yang kau buat delapan tahun silam, yang sampai hari ini masih kerap membuatmu terbangun berkeringat di jam tiga pagi karena digerogoti rasa malu, sesungguhnya tidak dipedulikan oleh siapa pun. Alam semesta yang dingin ini terlalu purba dan terlalu sibuk untuk sudi mencatat kekonyolan-kekonyolan banalmu. Kesadaran semacam ini semestinya memberimu amunisi keberanian untuk mulai berdamai dan menertawakan dirimu sendiri di depan cermin.

Jadi, berhentilah menyiksa sel-sel otakmu demi mencari arti hidup yang absurd. Kau takkan menemukannya di halaman-halaman buku filsafat tebal, tidak akan menemukannya di kutipan-kutipan inspirasional penceramah yang entah siapa, dan sudah barang tentu tak akan pernah kau temukan di lantai pabrik tempatmu menggadaikan waktu. Biarkan hidup berjalan apa adanya, membentang sebagai sebuah rentetan peristiwa acak, brutal, sering kali tak tertebak, yang kadang menyenangkan, seringnya membosankan, dan sesekali mematahkan hati hingga remuk redam.

Tugasmu di dunia ini, jika memang harus disebut sebagai tugas, bukanlah memburu makna abstrak di balik pergantian hari. Pekerjaanmu semata-mata hanyalah mencari akal agar perjalanan yang banal ini terasa sedikit lebih bisa dinikmati dan ditoleransi. Carilah hal-hal sepele yang membuatmu antusias untuk sekadar membuka kelopak mata keesokan harinya. Mungkin itu rasa penasaran belaka untuk melihat apakah Timnas sepak bola akan kalah dengan sempurna, atau sekadar menanti jadwal tayang siaran komedi favoritmu mengudara di Youtube. Hal-hal banal itulah bahan bakar utamanya. Mereka adalah satu-satunya penangkal paling mujarab dari kebosanan eksistensial yang mengintai setiap manusia dewasa

Selain beribadah jika memang kau beribadah, menjalani hidup yang cuma begini-begini saja ini, pada hakikatnya, sudah lebih dari cukup dan tidak perlu dipermalukan. Kau dilahirkan, kau menapaki hari demi hari, kau bekerja, kau mencari remah-remah hiburan untuk akal sehatmu, kau berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi bajingan yang menyusahkan liyan, lalu pada akhirnya kau akan menua, mati, dan perlahan dilupakan oleh sejarah. Terdengar suram? Mungkin bagi mereka yang masih dimabuk ekspektasi. Namun bagimu, yang pelan-pelan mulai memahami ritme roda gila kehidupan, ini adalah sebuah pembebasan yang tiada taranya. Tidak ada ujian akhir di bumi yang harus kau lulus, tidak ada dewan juri kosmik yang memegang papan nilai untuk menghakimi apakah hidupmu bermakna atau sebaliknya.

Di bumi yang sebentar lagi hancur ini, yang tersisa hanyalah dirimu, waktu yang berdetak konstan ke depan, dan sekumpulan kesenangan-kesenangan kecil yang sabar menunggumu untuk dirayakan di sela-sela rutinitas yang menjemukan. Bahkan jika hari esok tak membawa perubahan apa pun, kau tahu bahwa setidaknya di penghujung hari, masih ada segelas minuman dingin dan hal-hal sederhana yang menantimu dengan setia. Itu saja sudah cukup untuk membuatmu terus melangkah. Bagaimana, hidup yang tak berarti apa-apa ini ternyata tidak terlalu buruk juga, bukan?


Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!