@halamanbelakangdotorg ada di instagram, loh

Sebagian Perempuan


Aku pernah menonton sebuah video yang mengisahkan tentang seorang ibu penjaja kue di pasar. Di balik kesederhanaannya itu, ternyata beliau pernah berprofesi sebagai seorang pramugari. Beliau melepaskan karirnya itu demi anaknya.

Sepanjang video itu kuputar, aku tak melihat sedikitpun penyesalan terpatri di raut wajahnya, yang kulihat justru cinta yang begitu besar dan pengorbanan yang takkan pernah bisa diukur oleh apapun untuk anaknya.

‎Lalu aku bertanya kepada diriku sendiri, 'Apakah aku sanggup menjalani kehidupan seperti itu?'

‎Aku termenung cukup lama hingga akhirnya sebuah pikiran memasuki relung kepalaku.

‎Sebagian perempuan memang menemukan kebahagiaannya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Mereka mampu mengorbankan mimpi, waktu, tenaga, bahkan jiwa dan raga demi anak dan suami yang mereka cintai. Sementara, sebagian perempuan lainnya memilih jalan hidup yang berbeda, dan barangkali aku termasuk di antara mereka.

‎Entah mengapa, di usiaku yang sebentar lagi menginjak angka 26 ini, aku sama sekali belum dipertemukan dengan seorang pria yang ingin menjadikan aku pasangan hidupnya, dan aku tak begitu peduli. Jujur. Lebih dari itu, tak pernah sekalipun tumbuh keinginan yang benar-benar kuat di dalam diriku untuk menjadi seorang istri, apalagi seorang ibu. Bukan karena aku membenci pernikahan atau keluarga, melainkan karena pikiranku selama ini dipenuhi oleh satu hal: bagaimana caranya menyelamatkan dan membangunkan kehidupan diriku sendiri?

‎Yang kupikirkan setiap hari adalah bagaimana caranya untuk benar-benar menjalani dan merasakan hidup, bukan sekadar bertahan hidup. Bagaimana aku bisa keluar dari kemiskinan struktural selama ini yang membelengguku atau melepaskan status WNI ini dan menjadi warga negara Swiss, memperoleh kehidupan yang lebih layak, dan menghadirkan masa depan yang lebih baik untuk diriku sendiri. Pikiran-pikiran itu jauh lebih sering memenuhi rongga pikiranku ketimbang bayangan tentang gaun pengantin, pesta pernikahan, rumah tangga, dan keluarga kecilku di masa depan. Bahkan, jika harus jujur, aku lebih sering membayangkan hari kematianku sendiri ketimbang hari pernikahanku.

‎Aku tahu menjadi seorang istri dan seorang ibu menuntut pengorbanan dan perjuangan yang begitu besar. Dan setelah melihat kisah ibu itu, aku semakin menyadari bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang mengandung dan melahirkan seorang anak ke dunia yang fana ini, melainkan tentang kesediaan hati untuk terus-menerus mendahulukan kehidupan orang lain di atas kehidupanmu sendiri.

‎Dan, dalam kondisiku saat ini, aku bahkan masih berjuang untuk diriku sendiri.

‎Aku tidak yakin mampu mengabdikan seluruh tenaga, waktu, dan perasaanku untuk seorang suami dan anak-anak, sementara aku sendiri masih berusaha keluar dari belenggu yang membatasi langkahku.

‎Aku tidak yakin sanggup berkorban dan berjuang demi mereka, sementara aku tidak pernah tahu apakah suatu hari nanti mereka akan memiliki pengorbanan dan perjuangan yang sama besarnya untukku. Barangkali terdengar egois, namun itulah kejujuran yang masih hidup di dalam diriku hari ini.

‎Aku tidak ingin membangun sebuah keluarga hanya karena tuntutan usia atau ekspektasi masyarakat dan keluargaku sendiri. Jika suatu hari nanti aku memilih untuk menikah dan memiliki anak, aku ingin melakukannya karena aku benar-benar siap secara mental, emosional, dan finansial, bukan karena merasa itu adalah sebuah kewajiban yang datang bersama hukuman sanksi sosial jika dilanggar.

‎Mungkin jalan hidupku seperti sebagian perempuan lainnya yang berbeda. Dan jika memang demikian, aku mulai belajar menerima bahwa nilai seorang perempuan tidak dan tidak pernah ditentukan oleh statusnya sebagai seorang istri maupun ibu.

Ada perempuan yang mengabdikan hidupnya untuk keluarga, dan ada perempuan yang lebih dulu berjuang menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih mulia dari yang lain; keduanya sama-sama sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

‎Hari ini, perjuanganku masih soal keluar dari kemiskinan, berhenti sekadar bertahan hidup, dan mulai benar-benar menjalani dan menikmati kehidupan. Mungkin, jika hari itu tiba, aku akan menemukan jawaban yang berbeda. Atau mungkin tidak.

‎Dan apapun jawabannya nanti, aku berharap itu benar-benar lahir dari pilihanku sendiri.

Posting Komentar

tinggalkan sesuatu di halamanbelakang.org!